
"apa yang kita takuti bukanlah kelemahan-kelemahan kita, tetapi kebesaran-kebesaran yang kita miliki"
(what we afraid of is not our weakness, but our greatness)
Saya ingat suatu saat ketika masih kuliah, seorang teman mampir ke kos-kosan saya. Saya punya kebiasaan untuk menuliskan target di kertas, kadang dengan huruf besar-besar, dan menempelkannya di dinding kamar. seperti misalnya "IP semester ini adalah 3,5", atau yang berkaitan dengan kejuaraan seperti "saya adalah juara satu (biasanya saya tulis nama kejuaraannya, tergantung even terdekat apa)", atau juga sekedar kata-kata motivasi seperti "everyday I am a champion". Bukan apa-apa, saya melakukan itu karena semua itu membantu saya fokus untuk menjalani sesuatu. Dengan adanya target yang ingin dicapai, saya merasa apa yang saya lakukan menjadi terarah. Toh, kalaupun tidak berhasil, saya telah mencoba maksimal sesuai arah yang benar.
ketika seorang teman melihat kertas-kertas yang menempel di dinding-dinding kamar saya itu, spontan teman saya itu berkata "wiiih, mbak ini pingin jadi juara rek.." lalu ia melanjutkan dengan "wah,.. pakai target segala,... " .. dan seterusnya, intinya dia mengatakan kalimat-kalimat yang membuat saya merasa sedang diolok-olok. Dalam hati, muncul sedikit rasa malu dalam diri saya, "Iya, kenapa kok sampai pasang-pasang kertas target begitu di kamar, malu kalau dilihat orang", tapi, ada satu sisi dalam jiwa saya yang juga berkata "kenapa harus malu, kamu tidak salah, malah kamu berbuat benar, kamu benar-benar ingin juara kan ?". Waktu itu saya menulis kertas-kertas target itu karena menuruti buku-buku motivasi yang meneritakan bagaimana Michael Jordan dan Tiger Woods juga melakukan hal yang sama, dan demikian juga dengan Bruce Jenner dan orang-orang sukses di berbagai bidang. Saya kira itu mudah dilakukan, tinggal menuliskan keinginan kita, lalu ditempel di tempat yang mudah dilihat, dibaca setiap hari, selesai.
Tetapi, ternyata tidak semudah itu. Ketika teman-teman mencemooh karena tindakan menempel kertas yang seolah-olah membuat saya berlagak "ingin juara", saya mulai mempertanyakan apakah tindakan saya itu benar ? tetapi kalau itu memang bisa membantu, kenapa tidak ? kenapa harus malu ?
Jadi, saya tetap mempertahankan hal itu. Bahkan ketika saya juga mengalami kegagalan meraih juara seperti yang saya tuliskan itu, saya tetap mempertahankan kebiasaa itu. Ada yang mencemooh, ada yang hanya melihat kemudian tersenyum, kadang senyum sinis, kadang salut, atau diam saja. Tapi yang merespon secara positif juga banyak. Kata-kata mereka yang aku perhatikan. Biasanya, ketika tahu aku menetapkan target demikian, ada juga yang memberikan masukan-masukan membangun.
Tetapi, kadang saya merenung, kenapa harus ada rasa malu untuk menetapkan tarhet ? Saya punya teman yang sering bercanda dengan merendahkan kemampuannya sendiri. Aku melihatnya bukan sikap rendah hati, tapi merendahkan diri (dan teman saya itu tidak pernah menang). Tetapi ada juga temanku yang kedua, yang sangat pendiam, tidak pernah bicara tentang kemenangan, tetapi jelasnya target juara itu sangat terlihat dalam perilakunya yang datang latihan paling awal dan pulang paling akhir. Temanku yang kedua inilah yang menjadi juara. Mungkin ia menuliskan target itu terpatri di hatinya.
Saya juga pernah menuliskan berbagai cita-cita saya, dan sedikit demi sedikit dengan berjalannya waktu, keinginan-keinginan dalam daftar itu tercapai satu demi satu. Termasuk diantaranya bermain di PON, bertanding ke luar negeri, masuk tim nasional, sekolah S2, dan sebagainya.
Memang, ketika kita memutuskan sesuatu yang tampaknya dipandang sebagai sesuatu yang tinggi bagi lingkungan kita, kadang-kadang bukan support, tapi justru cemoohan yang kita dapat. Lebih buruk lagi, mungkin ada beberapa orang yang malah mengatakan hal hal yang menurunkan semangat seperti "kamu tidak akan bisa", "itu tidak mungkin" dsb. Susahnya, kadangkala yang mengatakan itu adalah orang-orang dekat, mungkin keluarga sendiri atau teman-teman kita sendiri. Jadi seringkali kita terjebak untuk menurutinya pendapat orang lain alih-alih mempercayai diri kita sendiri. Kita memilih untuk menghapus impian kita dan menuruti keinginan orang lain daripada mulai memikirkan bagaimana caranya meraih apa yang kita impikan.
ada sebuah buku bagus yang pernah kubaca, The Science of Success karya James Arthur Ray (salah satu kontributor dalam buku The Secret). Disana ada satu chapter yang mengatakan kalau kita berniat untuk meraih impian yang lebih tinggi, kita juga harus berani melepaskan "hal-hal lama" yang dapat menghambat kita. Termasuk diantara melepaskan pola pikir lama, kebiasaan-kebiasaan lama, adat-adat lama yang merugikan dan tidak berkontribusi pada pencapaian impian, atau bahkan lingkungan pergaulan yang lama. Bersiap-siaplah menerima tentangan atau cemoohan dari orang-orang di dekat kita, karena pada dasarnya mereka iri karena engkau berani bermimpi, sedangkan mereka tidak. Mereka akan berusaha membuat kamu tetap sama seperti dulu. Di sanalah sebenarnya kita bisa melihat, siapa yang benar-benar mendukung anda setulus hati dengan yang tidak.
Jadi, tentangan dan cemoohan, bahkan kegagalan selalu menjadi bagian perjalanan menuju sukses. Kalau orang bilang banyak jalan menuju Roma, saya juga akan menambahkan jalan itu bisa jadi menanjak, dengan medan berat dan berkerikil tajam. Tidak ada jalan yang mudah, dan juga tidak ada jalan pintas. Sesuatu yang gratis akan tidak dihargai. Tetapi sesuatu yang diraih dengan harga mahal yaitu kerja keras, akan dihargai dan dikenang bahkan seumur hidup. saya berpandangan kalau Olahraga menuntut bayaran di muka. Juara hanya untuk yang berani membayar di muka dengan latihan dan belajar keras, serta keberanian untuk menetapkan target kemana arah yang ingin engkau tuju. Karena itu, anda juga harus bersikap total dan bersungguh-sungguh; jangan sampai orang melihat kita telah ingin menetapkan target juara, tetapi kita malas-malasan; itu yang akan jadi bahan tertawaan. Tetapi kalau kita menetapkan target, kemudian berlatih sungguh-sungguh bahkan lebih dari yanglain, orang lain akan berpikir berbeda tentang kita. sekali menetapkan target, dan sungguh-sungguh meraihnya, anda tidak akan diremehkan.
Menjadi Juara atau hanya menjadi salah satu dari sekjian orang yang lewat dan pergi dari lintasan ? Itu semua pilihanmu, its up to you.
untuk meningkatkan semangat, ada bolehnya anda melihat unggahan video youtube dari Gary Riser-LIMU berjudul "How Winners Are Made" disini.
text lyrics :
Life is tough, that's a given.
When you stand up, you're gonna be shoved back down.
When you're down, you're gonna be stepped on.
My advice to you doesn't come with a lot of bells and whistles.
It's no secret, you'll fall down, you stumble, you get pushed, you land square on your face. And every time that happens, you get back on your feet. You get up just as fast as you can, no matter how many times you need to do it.
Remember this, success has been and continues to be defined as getting up one more time than you've been knocked down.
If experience has taught me anything, it's that nothing is free and living ain't easy. Life is hard, real hard, incredibly hard. You fail more often than you win, nobody is handing you anything.
It's up to you to puff up your chest, stretch your neck and overcome all that is difficult, the nasty, the mean, the unfair.
You want more than what you've now, PROVE IT!
You want beat the very best out there that is, get out there and earn it!
Once you decide that, you'll know where it is you want to be, then you won't stop pushing forward until you get there!
That's how winners are made.
At the end of the day, success is what we all want.
We all wanna win, and the race will be won. There is no question about that. So c'mon, get out on top, run faster, dream bigger, live better than you ever have before. This is in you. You can do this. Do it for yourself. Prove it to yourself!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar