Since I becoma a lecturer, this is my first International Conference I ever attended. I have never knew, or event think that I have the opportunity to join an International conference on Language or literary matter. Instead bof curiousity, I came to the conference in a "blank". I am not a literary lecturer, I dont teach English, Im just a sport-science lecturer who incidentally join an English DIKTI program on ITB, a situation which obliged me to attend the conference, free of charge, just to sign the attendance list. However, I prefer to stay in the conference, with an intent to experience the "International Conference".
The conference itself was a long tradition of UPT Bahasa ITB, held every 2 year since 1995, on a joint cooperation with University of Leeds (UK) and British Council. Imagine, a "technical" institute like ITB held a conference in social matter ! On one side, I think that ITB such a greedy institutions which try to cover and held anykind seminar out of its core, but in another side, why ITB which do it, others dont? I proves that ITB is a strong institution which can make such a conference come true.
It was a shook in my head in the opening ceremony, when the Leeds reperesentative, someone called Polman greets us with Assalamualaikum and talk in a fluent Indonesian language! I was astonished and thought how many languages this man masters? He also a Muslim, and an UK professor, something that enligghted me that Islam, somewhat has satified him as a way of life (I assume that al UK professor are very logic therefore he must be has been critical thinking within his mind to accept Islam as his religion).
Then I realized that today, Indonesian language is as same as other language. Its only a language which someone can masters, eventhough that you are not an Indonesian. Languages is a fluid matter, it can be absobed and mixed easily, and also diminishid. The first lecturer by professor Tove-Stagnutt Kangas (that is a Finnih name) explore the sucess of Multilanguage learning in preserve mother tongue. What a long lecture, intersting but a bit boring... I have expected too much that foreigner professors always presenting their ideas in an innovative way (This is a seminar, it is scientific, not a theater, Kur!) However, she also gives us an idea that the corellation between mother tongue extinction and ecology disaster is positive. What a new paradigm! I never thought that natural and social matter are linked together. But she presented facts and evidences. This is a new suprising idea I never knew or even thought before. Other intriguing things are, that education in certain national language such in English is actually violates human rights, that such kind of education are mental harm to ITM children.
The next paralell session was concerned to the use of languanges in Indonesia, related to Identity. The first speaker presents a "premature" concept, about whether the english slogan in Bandung universities are really attract people in. i cannot get anything new, since PIO and "marketing of universities" was my master2s thesis. The second speaker is about how to promote disaster prevention on schools using certain slangs or native jargons. But I feel unsatisfied too because i thought that that was more about design, not language. The third speaker, speaks Indonesian and seem ordinary. He talked about how Indonesian language has been contaminated due to the development of certain terms in Kaskus community, a virtual community which has their own language, a mixture of Indonesia and English language. When it comes to examples, audience started to pay attention when he says that the meaning of "Afgan" in Kaskus is "sadis" (what...), then BB is for "buka-bukaan, blue film and black berry", then COD is "meet on reality to make transaction", what a funny terms! Today, that presentation is the most interesting, i thought.
Last plenarry session clesed by a presentation by Yasraf Amin Piliang, a well-known scholar. I never read his book, but I know that he is famous. He presented about irrational use of language in a democratoic sphere of Indonesia. At first I cannot understand what he said, at fisrt is aboput discourse, then about the construction of reality, then about democracy, then about how the language has been used as an "empty sigfnifier", a term when an icon, a picture, a word is used to construct unobjective reality. This is also happen in education, justice, government, all aspect in our country. This one, i have to say, very interesting, critical, yet irritating.
I feel that teachers and lecturers already construct a reality within students:s head. They perceive what we say as truths, instead of criticise it. I remember back then, when realize how my FIK students are struggling with their sleepiness while i explained statistical terms, while I also doubt does the knowledge itself is their objective? they learn in universitioes in order to get jobs, not study. they just take anything given, instead of self-searching. I really understand when Dr Yasraf said that "education has lost its meaning". yet this is irritating, i also see this as challenging. Why ? because sport is not yet regarded as science.
This is just the first day, and I found my mind strunggring. I can understan why people charge high admisiion fee to a seminar/conference like this. Its very mind-blowing.
Selasa, 26 Juni 2012
Sabtu, 17 Maret 2012
ketika orang-orang mencemooh impian kita (dalam olahraga atau bidang apapun)...

"apa yang kita takuti bukanlah kelemahan-kelemahan kita, tetapi kebesaran-kebesaran yang kita miliki"
(what we afraid of is not our weakness, but our greatness)
Saya ingat suatu saat ketika masih kuliah, seorang teman mampir ke kos-kosan saya. Saya punya kebiasaan untuk menuliskan target di kertas, kadang dengan huruf besar-besar, dan menempelkannya di dinding kamar. seperti misalnya "IP semester ini adalah 3,5", atau yang berkaitan dengan kejuaraan seperti "saya adalah juara satu (biasanya saya tulis nama kejuaraannya, tergantung even terdekat apa)", atau juga sekedar kata-kata motivasi seperti "everyday I am a champion". Bukan apa-apa, saya melakukan itu karena semua itu membantu saya fokus untuk menjalani sesuatu. Dengan adanya target yang ingin dicapai, saya merasa apa yang saya lakukan menjadi terarah. Toh, kalaupun tidak berhasil, saya telah mencoba maksimal sesuai arah yang benar.
ketika seorang teman melihat kertas-kertas yang menempel di dinding-dinding kamar saya itu, spontan teman saya itu berkata "wiiih, mbak ini pingin jadi juara rek.." lalu ia melanjutkan dengan "wah,.. pakai target segala,... " .. dan seterusnya, intinya dia mengatakan kalimat-kalimat yang membuat saya merasa sedang diolok-olok. Dalam hati, muncul sedikit rasa malu dalam diri saya, "Iya, kenapa kok sampai pasang-pasang kertas target begitu di kamar, malu kalau dilihat orang", tapi, ada satu sisi dalam jiwa saya yang juga berkata "kenapa harus malu, kamu tidak salah, malah kamu berbuat benar, kamu benar-benar ingin juara kan ?". Waktu itu saya menulis kertas-kertas target itu karena menuruti buku-buku motivasi yang meneritakan bagaimana Michael Jordan dan Tiger Woods juga melakukan hal yang sama, dan demikian juga dengan Bruce Jenner dan orang-orang sukses di berbagai bidang. Saya kira itu mudah dilakukan, tinggal menuliskan keinginan kita, lalu ditempel di tempat yang mudah dilihat, dibaca setiap hari, selesai.
Tetapi, ternyata tidak semudah itu. Ketika teman-teman mencemooh karena tindakan menempel kertas yang seolah-olah membuat saya berlagak "ingin juara", saya mulai mempertanyakan apakah tindakan saya itu benar ? tetapi kalau itu memang bisa membantu, kenapa tidak ? kenapa harus malu ?
Jadi, saya tetap mempertahankan hal itu. Bahkan ketika saya juga mengalami kegagalan meraih juara seperti yang saya tuliskan itu, saya tetap mempertahankan kebiasaa itu. Ada yang mencemooh, ada yang hanya melihat kemudian tersenyum, kadang senyum sinis, kadang salut, atau diam saja. Tapi yang merespon secara positif juga banyak. Kata-kata mereka yang aku perhatikan. Biasanya, ketika tahu aku menetapkan target demikian, ada juga yang memberikan masukan-masukan membangun.
Tetapi, kadang saya merenung, kenapa harus ada rasa malu untuk menetapkan tarhet ? Saya punya teman yang sering bercanda dengan merendahkan kemampuannya sendiri. Aku melihatnya bukan sikap rendah hati, tapi merendahkan diri (dan teman saya itu tidak pernah menang). Tetapi ada juga temanku yang kedua, yang sangat pendiam, tidak pernah bicara tentang kemenangan, tetapi jelasnya target juara itu sangat terlihat dalam perilakunya yang datang latihan paling awal dan pulang paling akhir. Temanku yang kedua inilah yang menjadi juara. Mungkin ia menuliskan target itu terpatri di hatinya.
Saya juga pernah menuliskan berbagai cita-cita saya, dan sedikit demi sedikit dengan berjalannya waktu, keinginan-keinginan dalam daftar itu tercapai satu demi satu. Termasuk diantaranya bermain di PON, bertanding ke luar negeri, masuk tim nasional, sekolah S2, dan sebagainya.
Memang, ketika kita memutuskan sesuatu yang tampaknya dipandang sebagai sesuatu yang tinggi bagi lingkungan kita, kadang-kadang bukan support, tapi justru cemoohan yang kita dapat. Lebih buruk lagi, mungkin ada beberapa orang yang malah mengatakan hal hal yang menurunkan semangat seperti "kamu tidak akan bisa", "itu tidak mungkin" dsb. Susahnya, kadangkala yang mengatakan itu adalah orang-orang dekat, mungkin keluarga sendiri atau teman-teman kita sendiri. Jadi seringkali kita terjebak untuk menurutinya pendapat orang lain alih-alih mempercayai diri kita sendiri. Kita memilih untuk menghapus impian kita dan menuruti keinginan orang lain daripada mulai memikirkan bagaimana caranya meraih apa yang kita impikan.
ada sebuah buku bagus yang pernah kubaca, The Science of Success karya James Arthur Ray (salah satu kontributor dalam buku The Secret). Disana ada satu chapter yang mengatakan kalau kita berniat untuk meraih impian yang lebih tinggi, kita juga harus berani melepaskan "hal-hal lama" yang dapat menghambat kita. Termasuk diantara melepaskan pola pikir lama, kebiasaan-kebiasaan lama, adat-adat lama yang merugikan dan tidak berkontribusi pada pencapaian impian, atau bahkan lingkungan pergaulan yang lama. Bersiap-siaplah menerima tentangan atau cemoohan dari orang-orang di dekat kita, karena pada dasarnya mereka iri karena engkau berani bermimpi, sedangkan mereka tidak. Mereka akan berusaha membuat kamu tetap sama seperti dulu. Di sanalah sebenarnya kita bisa melihat, siapa yang benar-benar mendukung anda setulus hati dengan yang tidak.
Jadi, tentangan dan cemoohan, bahkan kegagalan selalu menjadi bagian perjalanan menuju sukses. Kalau orang bilang banyak jalan menuju Roma, saya juga akan menambahkan jalan itu bisa jadi menanjak, dengan medan berat dan berkerikil tajam. Tidak ada jalan yang mudah, dan juga tidak ada jalan pintas. Sesuatu yang gratis akan tidak dihargai. Tetapi sesuatu yang diraih dengan harga mahal yaitu kerja keras, akan dihargai dan dikenang bahkan seumur hidup. saya berpandangan kalau Olahraga menuntut bayaran di muka. Juara hanya untuk yang berani membayar di muka dengan latihan dan belajar keras, serta keberanian untuk menetapkan target kemana arah yang ingin engkau tuju. Karena itu, anda juga harus bersikap total dan bersungguh-sungguh; jangan sampai orang melihat kita telah ingin menetapkan target juara, tetapi kita malas-malasan; itu yang akan jadi bahan tertawaan. Tetapi kalau kita menetapkan target, kemudian berlatih sungguh-sungguh bahkan lebih dari yanglain, orang lain akan berpikir berbeda tentang kita. sekali menetapkan target, dan sungguh-sungguh meraihnya, anda tidak akan diremehkan.
Menjadi Juara atau hanya menjadi salah satu dari sekjian orang yang lewat dan pergi dari lintasan ? Itu semua pilihanmu, its up to you.
untuk meningkatkan semangat, ada bolehnya anda melihat unggahan video youtube dari Gary Riser-LIMU berjudul "How Winners Are Made" disini.
text lyrics :
Life is tough, that's a given.
When you stand up, you're gonna be shoved back down.
When you're down, you're gonna be stepped on.
My advice to you doesn't come with a lot of bells and whistles.
It's no secret, you'll fall down, you stumble, you get pushed, you land square on your face. And every time that happens, you get back on your feet. You get up just as fast as you can, no matter how many times you need to do it.
Remember this, success has been and continues to be defined as getting up one more time than you've been knocked down.
If experience has taught me anything, it's that nothing is free and living ain't easy. Life is hard, real hard, incredibly hard. You fail more often than you win, nobody is handing you anything.
It's up to you to puff up your chest, stretch your neck and overcome all that is difficult, the nasty, the mean, the unfair.
You want more than what you've now, PROVE IT!
You want beat the very best out there that is, get out there and earn it!
Once you decide that, you'll know where it is you want to be, then you won't stop pushing forward until you get there!
That's how winners are made.
At the end of the day, success is what we all want.
We all wanna win, and the race will be won. There is no question about that. So c'mon, get out on top, run faster, dream bigger, live better than you ever have before. This is in you. You can do this. Do it for yourself. Prove it to yourself!
Selamat datang di kur:s journal
Hai, selamat datang di blog saya. Panggil saja saya Kur disini.
Saya membuat blog ini khusus untuk anda yang terlibat dengan olahraga. Saya bekerja sebagai seorang pengajar di sebuah Universitas Negeri di Malang, kebetulan di fakultas Ilmu Keolahragaan. Meskipun demikian, basic pendidikan saya adalah psikologi. Oh ya, saya pernah menjadi atlit. Karena itu apa yang saya tulis ini adalah refleksi pikiran-pikiran saya yang sebagian besar berkaitan dengan olahraga dan psikologi olahraga, atau terserah apapun yang mau saya tulis dan dibagikan kepada anda semua... blogging is the easiest way to share. Sekaligus, ini adalah saran untuk memaksa diri saya kembali melatih urat-urat menulis saya yang pernah hilang,....
semoga bermanfaat bagi anda, keep fight !!
Saya membuat blog ini khusus untuk anda yang terlibat dengan olahraga. Saya bekerja sebagai seorang pengajar di sebuah Universitas Negeri di Malang, kebetulan di fakultas Ilmu Keolahragaan. Meskipun demikian, basic pendidikan saya adalah psikologi. Oh ya, saya pernah menjadi atlit. Karena itu apa yang saya tulis ini adalah refleksi pikiran-pikiran saya yang sebagian besar berkaitan dengan olahraga dan psikologi olahraga, atau terserah apapun yang mau saya tulis dan dibagikan kepada anda semua... blogging is the easiest way to share. Sekaligus, ini adalah saran untuk memaksa diri saya kembali melatih urat-urat menulis saya yang pernah hilang,....
semoga bermanfaat bagi anda, keep fight !!
Langganan:
Komentar (Atom)